Tiga kapal tanker raksasa akhirnya berhasil melintas melalui Selat Hormuz setelah tertahan hampir dua bulan akibat ketegangan geopolitik. Kargo minyak senilai miliaran dolar itu kini dalam perjalanan menuju pelabuhan-pelabuhan di Asia.
Tiga kapal tanker super (Very Large Crude Carrier/VLCC) akhirnya berhasil melintas melalui Selat Hormuz setelah tertahan hampir dua bulan akibat memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia. Kapal-kapal tersebut membawa total enam juta barel minyak mentah yang nilainya diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.
Berita ini disambut lega oleh para pelaku pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia, dengan sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak bumi global melewati perairan sempit ini setiap harinya.
Ketiga kapal tanker tersebut mulai tertahan sejak awal April 2026 menyusul meningkatnya ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah. Sejumlah insiden penembakan dan upaya penyitaan kapal terjadi di kawasan tersebut, membuat operator pelayaran internasional memilih untuk menghentikan sementara operasi mereka.
Selama dua bulan tertahan, kargo minyak mentah senilai miliaran dolar itu mengakibatkan tekanan besar pada rantai pasok energi global, mendorong kenaikan harga minyak Brent hingga menembus level tertingginya dalam beberapa bulan terakhir.
Indonesia sebagai negara importir minyak merasakan dampak langsung dari ketegangan di Selat Hormuz. PT Pertamina (Persero) menyatakan pihaknya telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan diversifikasi sumber impor minyak mentah dan memaksimalkan kapasitas kilang dalam negeri.
Kini setelah ketiga kapal tanker berhasil melintas, harga minyak mentah di pasar global mulai menunjukkan tren penurunan, yang diharapkan dapat meredam tekanan inflasi di berbagai negara termasuk Indonesia.
Admin Redaksi
Penulis di NewsPortal.id
Masuk untuk ikut berdiskusi
Masuk / Daftar